Sabtu, 07 November 2015

MAKALAH LANDASAN FILSAFAT TEKNOLOGI PENDIDIKAN

BAB I 
PENDAHULUAN 

 A. Latar Belakang

 Ketika berbicara pendidikan maka kita akan berbicara mengenai definisi pendidikan. Pendidikan merupakan aktifitas rasional yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya. Manusia belajar dengan otaknya melalu rangkaian kegiatan menuju pendewasaan untuk mencapai kehidupan yang lebih berarti. Pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Karena itu diperlukan sejumlah landasan dan asas-asas tertentu dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan. Beberapa landasan pendidikan yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan tujuan pendidikan adalah landasan filosofis, sosiologis, dan kultural, Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan mendorong pendidikan untuk menjemput masa depan. Pendidikan merupakan proses untuk meningkatkan, memperbaiki, mengubah pengetahuan, keterampilan, sikap serta tingkah laku seseorang dalam usaha mencerdaskan kehidupan manusia melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan pelatihan. Proses menunjukan adanya aktifitas dalam bentuk tindakan aktif dimana terjadi suatu interaksi yang dinamis dan dilakukan secara sadar dalam usaha mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu tindakan pendidikan maka harus terencana dengan sadar agar terjadi perubahan dan tingkah laku yang lebih baik. Pendidikan juga merupakan salah satu bidang ilmu. Sama halnya dengan ilmu-ilmu yang lain, pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat. Sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari induknya. Pada intinya filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia dan peningkatan kehidupan manusia. Dalam proses pelaksanaannya, baik secara teoritis maupun praktis pendidikan sangat memerlukan adanya sebuah landasan atau tumpuan untuk berpijak. Hal ini dikarenakan bahwa pendidikan tidak akan pernah berhasil secara maksimal tanpa adanya tujuan, sedangakan tujuan tidak akan pernah tercapai dan terarah tanpa adanya landasan atau dasar yang kuat. Salah satunya landasan yang sering digunakan dalam suatu lembaga pendidikan yaitu landasan filosofi, yang mana landasan ini berkaitan erat dengan hakekat atau makna pendidikan tersebut. Dalam hal ini filsafat digunakan sebagai salah satu alat untuk menjadi suatu landasan pendidikan. 

B. Rumusan Masalah 
   1. Apa pengertian dari landasan filsafat pendidikan? 
   2. Apa saja objek filsafat pendidikan? 
  3. Apa saja tujuan filsafat dalam teknologi pendidikan dan bagaimana aplikasinya dalam                       pendidikan? 

 BAB II 
PEMBAHASAN 

 A. Pengertian Landasan 
Filsafat Falsafat adalah kegiatan pemikiran yang mendalam dan menyeluruh, serta wujud hasil pemikiran tersebut mengenai kesemestaan sesuatu. Atau rangkaian pernyataan yang didasarkan pada keyakinan, konsepsi dan sikap seseorang, yang menunjukkan arah dan tujuan yang diambilnya. Teknologi pendidikan telah berkembang sebagai suatu disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan tersebut dilandasi oleh serangkaian kaidah atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran. Landasan filsafat merupakan landasan yang berkaitan erat dengan makna atau hakekat pendidikan.karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan itu sendiri berusaha mewujudkan citra. Filsafat juga berupaya menjawab secara kritis dan mendasar berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan. Filsafat juga membahas sesuatu dari segala aspek yang mendalam, maka dikatakan kebenaran fisafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia. Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, atau dikembangakan melalui serangkaian proses pendidikan baik yang berwujud ideal atau kelakuan dan teknologi. Filsafat dalam pendidikan merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan, atau dapat dikatakan sebagai teori yang dipakai dasar bagaimana ”pendidikan itu dilaksanakan” sehingga mencapai tujuan (Dewey, 1946: 383). Oleh karena itu, sebagai sebuah ilmu teknologi pendidikan juga memiliki landasan. Salah satunya adalah landasan filosofis yang dapat dikaji melalui tiga kajian filsafat yaitu ontologi yang mewakili pertanyaan ”apa?” atau ”mengapa?”, epistimologi yang mewakili ”bagaimana?”, dan aksiologi ”untuk apa?”.

 B. Objek Filosofis Pendidikan 
Dalam menjawab landasan filosofis teknologi pendidikan, maka perlu dijawab tiga hal, yaitu ontologi (apa), epistemology (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa). Secara falsafi, dasar keilmuan itu meliputi : ontologi atau rumusan tentang objek formal atau pokok telaah yang merupakan gejala pengamatan yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain; epistimologi yaitu usaha atau prinsip intelektual untuk memperoleh kebenaran dalam pokok telaah yang ditentukan; aksiologi adalah nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan, yang mempersoalkan nilai moral atau etika dan nilai seni dan keindahan atau estetika. a. Ontologi Obyek formal teknologi pendidikan adalah belajar pada manusia. Belajar itu sendiri dapat diartikan sebagai perubahan pada diri seseorang atau suatu lembaga yang relatif menetap dan berkembang dalam pengetahuan, sikap dan keterampilan, yang disebabkan karena pemikiran dan pengalaman. Belajar itu terjadi dimana saja, kapan saja, apa saja, dari apa atau siapa saja, dan cara bagaimana saja. Setiap orang mempunyai hak untuk belajar. Belajar selain dapat diperoleh dari lembaga khusus seperti sekolah, lembaga kursus, juga dapat diperoleh di lingkungan sekitar misalnya di keluarga, masyarakat, tempat ibadah, maupun di lingkungan kerja. Namun, ternyata tidak semua orang terpenuhi kesempatan belajarnya. Hal ini dapat dilihat dari contoh berikut: di suatu sekolah, dari 40 siswa dengan hanya satu orang guru, hanya beberapa orang saja yang mendapatkan kesempatan belajar dengan baik. Bagaimana meningkatkan keterlibatan belajar semua siswa secara efektif, efisien dan menarik di kelas? Disinilah perlunya teknologi pendidikan di Indonesia. Kemudian bagaimana menigkatkan kualifikasi 2,2 juta guru di Indonesia melalui cara tertentu tanpa guru tersebut harus meninggalkan kelas? Semua itu membutuhkan peran penting teknologi pendidikan. Artinya banyak sumber baik orang, pesan, alat, teknik, maupun lingkungan yang sebenarnya dapat dimanfaatkan atau di optimalkan secara tepat dan relevan tapi belum atau bahkan tidak sepenuhnya seperti itu. Misal, teknologi informasi dan komunikasi seperti radio, televisi, internet, dan lain-lain memiliki potensi yang luar biasa untuk dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemenarikan proses pembelajaran. Parahnya dalam konteks pendidikan saat ini, masih banyak sekolah katakanlah yang bersifat teacher-centered, dimana guru adalah satu-satunya sumber belajar. Disinalah letak peran penting atau perlu adanya disiplin ilmu teknologi pendidikan yang berperan dalam mengidentifikasi, merancang, mengembangkan, memanfaatkan, dan mengevaluasi sumber-sumber yang relevan dan tepat untuk kondisi pembelajaran tertentu. Oleh karena itu, pendekatan isomorfis, yaitu menggabungkan hal-hal yang sesuai dari berbagai kajian bidang kedalam bentuk suatu kebulatan tersendiri untuk memecahkan masalah belajar dengan memanfaatkan berbagai sumber tersebut. Apakah obyek penelaahan (ontology) teknologi pendidikan itu? Untuk menjawab pertanyaan itu, Prof. Yusufhadi Miarso menjelaskan adanya masalah-masalah baru, yaitu: 1. Adanya berbagai macam sumber untuk belajar termasuk orang (penulis buku, produser media dan lain-lain), pesan (yang tertulis dalam buku atau tersaji lewat media), media (buku, program televise, radio dan lain-lain), alat (jaringan televise, radio dan lain-lain), cara-cara tertentu dalam mengolah/menyajikan pesan, serta lingkungan dimana proses pendidikan itu berlangsung. 2. Perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik secara konseptual maupun factual. 3. Perlu dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber untuk belajar itu agar dapat digunakan seoptimal mungkin guna keperluan belajar. b. Epistimologi Landasan epistimologi menelaah bagaimana suatu ilmu pengetuahuan diperoleh. Pertam-tama yang dilakukan adalah menelaah secara simultan keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya. Kemudian unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kopleks yang sistemik, yaitu yang dirancang, dikembangkan, dinilai, dan dikelola sebagai suatu kesatuanuntuk memecahkan masalah. Fungsi-fungsi tersebut dilakukan dengan digabungkan secara sinergis sehingga masing-masing fungsi tidak berjalan secara sendiri. Cara memperoleh ilmu pendidikan dalam teknologi pendidikan (epistimologi teknologi pendidikan) dilakukan dengan cara-cara: a. Isomerik, penggabungan berbagai disiplin menjadi kebulatan sendiri b. Sistemik, berurutan, terencana, dan terarah c. Sinergistik, berdaya lipat atau nilai tambah d. Sistemik , menyeluruh atau komprehensif e. Inovatif, sesuatu yang baru dan belum ada sebelumnya f. Integratif, terjalin dalam suatu sistem atau struktur dan tidak terpisahkan. Bagaimana teknologi pendidikan dikembangkan? Prof. Yusufhadi Miarso menjelaskan tiga pendekatan baru, yaitu teknik intelektual yang unik yang tidak dilakukan oleh disiplin keilmuan yang telah ada sebelumnya, yang merupakan ciri epsitemologi teknologi pendidikan, yaitu: 1. Keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling keterkaitannya (sistemik), dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah (parsial). 2. Unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai, dikelola sebagai suatu kesatuan, dn ditujukan untuk memecahkan masalah. 3. Penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri. c. Aksiologi Azas manfaat atau aksio dari teknologi pendidikan dapat dinyatakan dengan kutipan pendapat Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, dalam Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan di Yogyakarta pada tahun 1982 sebagai berikut: Teknologi Pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus karena adanya kebutuhan real yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu : 1. Tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar. 2. Keharusan meningkatkan mutu pendidikan berupa, penyempurnaan kurikulum, penyediaan berbagai sarana pendidikan, dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar lewat berbagai bentuk pendidikan serta latihan. 3. Penyempurnaan sistem pendidikan dengan penelitian dan pengembangan sesuai tantangan jaman dan kebutuhan pembangunan. 4. Peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan sumber pendidikan. 5. Penyempurnaan pelaksanaan interaksi antara pendidikan dan pembangunan dimana manusia dijadikan pusat perhatian pendidikan.” Pernyataan kebijakan tersebut pada saat ini telah terwujudkan, baik sebagai konsep maupun sebagai bentuk atau pola pelembagaan pendidikan. Konsep tersebut bahkan telah dikukuhkan dengan ketentuan perundangan dan peraturan. Paling tidak ada lima konsep dari teknologi pendidikan yang telah terintegrasi dalam sistem pendidikan dan tertuang dalam Undang-undang Sisdikanas dan tururnannya. Kelima konsep itu adalah : a. Pembelajaran yang berfokus pada peserta didik b. Sumber belajar yang beraneka c. Pendekatan dari bawah (bottom-up approaches) dalam mengelola kegiatan belajar dan implikasinya dalam satuan pendidikan d. Sistem pendidikan terbuka dan multi makna e. Pendidikan jarak jauh Namun perlu diperhatikan bahwa pembenaran secara falsafi, harus pula dilengakapi dengan pembenaran ilmiah. Pembenaran ilmiah dilakukan dengan melalui tiga kategori pendekatan yang berakar pada filsafat ilmu. Ke tiga pendekatan itu adalah pengembangan, penelitian, dan penilaian yang diperlukan untuk menghasilkan teori, model, sistem, pembuktian, program aksi, dan kebijakan. Kebenaran ilmiah dalam teknologi pendidikan telah dan sedang dilakukan untuk mengembangkan model, produk dan sistem, pengujian berbagai strategi dan media pembelajaran, serta berbagai penilaian seperti penelusuran kebutuhan, penilaian efektivitas tindakan dan sebagainya. Perlu disadari bahwa semua bentuk teknologi, termasuk teknologi pendidikan, adalah sistem yang diciptakan oleh manusia untuk suatu tujuan tertentu, yang pada intinya adalah mempermudah dalam memperingan masalahnya, meningkatkan hasilnya, dan menghemat tenaga serta sumber daya yang ada. Oleh karena itu teknologi itu pada hakekatnya adalah tidak bebas nilai, karena terkandung adanya aturan etik dan estetika dalam penciptaan dan penggunaannya. Namun ada orang-orang tertentu yang menyalahgunakan makna atau penggunannya, dengan menganggap teknologi itu value free atau empty of meaning. Prof. Yusufhadi Miarso menjelaskan kegunaan (aksiologi) teknologi pendidikan dengan mengutip Presidential Commission on Instructional Technology Amerika Serikat (1969) sebagai beirkut: 1. Meningkatkan produktifitas pendidikan dengan jalan: a. Memperlaju pentahapan belajar. b. Membantu guru menggunakan waktunya secara lebih baik. c. Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak. 2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan: a. Mengurangi control guru yang kaku dan tradisional b. Memberikan kesepmatan anak berkembang sesuai kemampuannya 3. Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan: a. Perencanaan program pengajaran yang lebih sistemik b. Pengembangan bahan ajar yang dilandasi penelitian tentang prilaku 4. Lebih memantapkan pengajaran dengan jalan: a. Meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi b. Penyajian informasi dan data secara lebih konkrit 5. Memungkinkan belajar secara lebih akrab, karena dapat: a. Mengurangi jumlah pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah b. Memberikan penegtahuan tangan pertama 6. Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama dengan jalan: a. Pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas b. Penyajian informasi menembus batas geografi Dalam konteks Indonesia, aksiologi teknologi pendidikan dapat dilihat dalam Pidato Pengarahan Mendikbud (1980), Daoed Joesoef, yang menyatakan teknologi pendidikan perlu terus dikembangkan untuk: 1) perluasan dan pemerataan kesempatan belajar; 2) meningkatkan mutu pendidikan seperti penyempurnaan kurikulum, penyediaan berbagai sarana pendidkikan dan peningkatan kemampuan tenaga pengajar lewat bergai bentuk pendidikan serta latihan; 3) penyempurnaan sistem pendidikan dengan penelitian dan pengembangan sesuai tantangan jaman dan kebutuhan pembangunan; 4) peningkatan partisipasi masyarakat dengan pengembangan dan pemanfaatan berbagai wadah dan sumber pendidikan; 5) penyempurnaan pelaskanaan interaksi antara pendidikan dan pembanunan dimana manusia dijadikan pusat perhatian pendidikan. 

 C. Tujuan dan Pengimplikasian Landasan Filsafat bagi Eknologi Pendidikan 
 1. Tujuan Berikut adalah beberapa kegunaan potensial teknologi pendidikan menurut Miarso: a. Meningkatkan produktivitas pendidikan 1) Memperlaju penahapan belajar 2) Membantu guru menggunakan waktu secara lebih baik 3) Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi b. Memungkinkan pendidikan yang lebih individual 1) Mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional 2) Memberikan kesempatan anak berkembang sesuai kemampuannya c. Memberikan dasar Pengajaran yang lebih ilmiah 1) Perencanaan program pembelajaranyang lebih sistematis 2) Pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang perilaku d. Lebih memantapkan pengajaran 1) Meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi 2) Penyajian informasi dan data secara lebih kongkret. e. Memungkinkan belajar lebih akrab 1) Mengurangi jurang pemisah antara pembelajaran didalam dan diluar sekolah 2) Memberikan pengetahuan tangan pertama f. Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata 1) Pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas 2) Penyajian informasi menembus batas geografi. 2. Aplikasi Teknologi Pendidikan Apabila konsep atau pengertian teknologi pendidkan kita analisis, kita akan memperoleh pedoman umum aplikasi sebagai berikut: a. Memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi, manajemen, rekayasa, dan lain-lain secara bersistem. b. Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak, dengan memerhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di anataranya. c. Digunakan teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar. d. Timbulnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih dari pada memecahkan masalah secara terpisah. Adapun bentuk yang sudah jelas merupakan aplikasi dari teknologi pendidikan untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia khususnya adalah sebagai beriut: a. Terciptanya Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan produk yang dihasilkan oleh pengembangan pengetahuan, hal tersebut merupakan bagian dari tujuan teknologi pendidikan yaitu mengintegrasikan suatu sistem pendidikan sehingga tercapai pendidikan yang berkualitas. b. Adanya sistem pendidikan terbuka, konsep ini dilakukan karena terdapat beberapa alasan yang menjadi faktor pendukung, salah satu alasan tersebut adalah tingginya kebutuhan akan pengetahuan namun terbatasnya waktu pembelajaran sehingga terbentuklah sistem pendidikan terbuka, seperti SMP Terbuka, SMA terbuka, dan Universitas terbuka. c. Terciptanya sistem pendidikan jarak jauh. Sistem pendidikan jarak jauh dimaksudkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dari manapun, siapapun dan kapanpun. Sehingga konsep pendidikan jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi pun dilaksanakan dengan harapan bahwa pelaksanaan pendidikan tidak mesti antara pendidik dan peserta didik harus bertatap muka secara langsung dalam ruang kelas. d. Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM). Konsep PAKEM merupakan sebuah terobosan dalam dunia pendidikan di Indonesia, hal ini pun merupakan aplikasi produk yang dihasilkan oleh teknologi pendidikan. e. Pembelajaran inovatif. Dimaksudkan bahwa pelaksanaan pembelajaran selalu berinovasi disesuaikan dengan kebutuhan dan kemajuan teknologi, sehingga tidak ada lagi istilah bahwa pembelajaran hanya terpusat pada guru sebagai pendidik, namun setiap orang wajib memiliki pendapatnya sendiri mengenai materi pelajaran yang sedang dipelajari. f. Sumber belajar, dengan adanya teknologi pendidikan sumber belajar semakin variatif, tidak hanya sekedar dari buku sekolah, guru, dan terpaku pada sumber belajar yang telah ditetapkan. g. Partisipasi masyarakat, penerapan teknologi pendidikan membuat masyarakat menjadi paham akan pentingnya peran mereka dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. 

 BAB III 
KESIMPULAN 

 1. Pengertian landasan filsafat Landasan filsafat merupakan landasan yang berkaitan erat dengan makna atau hakekat pendidikan.Karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan itu sendiri berusaha mewujudkan citra. Filsafat juga berupaya menjawab secara kritis dan mendasar berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan. 2. Objek filsafat Cabang keilmuan itu meliputi : ontologi atau rumusan tentang objek formal atau pokok telaah yang merupakan gejala pengamatan yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain; epistimologi yaitu usaha atau prinsip intelektual untuk memperoleh kebenaran dalam pokok telaah yang ditentukan; aksiologi adalah nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan, yang mempersoalkan nilai moral atau etika dan nilai seni dan keindahan atau estetika. 3. Tujuan dan Pengaplikasian Landasan Filsafat dalam Pendidikan a. Tujuan 1) Meningkatkan produktivitas pendidikan 2) Memungkinkan pendidikan yang lebih individual 3) Memberikan dasar Pengajaran yang lebih ilmiah 4) Lebih memantapkan pengajaran 5) Memungkinkan belajar lebih akrab 6) Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata b. Aplikasi pendidikan teknologi antara lain: 1) Memadukan berbagai macam pendekatan dari bidang psikologi, komunikasi, manajemen, rekayasa, dan lain-lain secara bersistem. 2) Memecahkan masalah belajar pada manusia secara menyeluruh dan serempak, dengan memerhatikan dan mengkaji semua kondisi dan saling kaitan di anataranya. 3) Digunakan teknologi sebagai proses dan produk untuk membantu memecahkan masalah belajar. 4) Timbulnya daya lipat atau efek sinergi, di mana penggabungan pendekatan dan atau unsur-unsur mempunyai nilai lebih dari sekedar penjumlahan. Demikian pula pemecahan secara menyeluruh dan serempak akan mempunyai nilai lebih dari pada memecahkan masalah pendidikan. 

 DAFTAR PUSTAKA 

 Harjali. 2011. Teknologi Pendidikan. Ponorogo: STAIN Po PRESS 

 Pidarta, Made. 2007. Landasan Pendidikan . Jakarta: Rineka Cipta. 

Yusufhadi, Miarso. 2011. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustaka Diknas.

Minggu, 03 Juni 2012

AIR DAN KEHIDUPAN

         Kata air sangat tak asing bagi kita. Air adalah salah satu komponen terpenting dalam kehidupan. Sebagian besar dari bumi kita juga terbuat dari air. Meskipun air meliputi 70% dari permukaan bumi, kebanyakan darinya terlalu asin untuk diminum. Tiga per empat dari air tawar yang tersedia diperoleh dari gunung es kutub, dan dalam bentuk glasier (sungai es). Sisa air tawar tersedia dalam bentuk air tanah, sungai, danau dan arus Ada lebih dari dua ratus lima puluh sungai di dunia. Sungai utama di kota kita adalah sungai Musi. Semua kehidupan di Palembang bergantung pada sungai ini. Mulai dari air minum, air untuk mencuci hingga air untuk mandi. Air sungai musi juga semakin hari semakin keruh. Seingat saya saat kita TK sekitar 1995, sungai musi masih terlihat indah. Sampah-sampah masih sedikit menghiasi sungai ini. Bayangkan jika 20 tahun lagi sungai musi sangat tercemar. Darimana kita manusia akan hidup?? Apakah harus terus di suling agar bersih?? Mau berapa kali penyaringan kalau airnya sudah di penuhi dengan sampah seperti kali ciliwung di jakarta?? Apakah kita bisa hidup tanpa air?? Ya kita bisa hidup tanpa air, namun hanya 3 hari. 
      Begitu besar peran air bagi hidup ini. Bukan hanya pada manusia, tetapi juga pada seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Populasi dunia terus tumbuh, dan kebutuhan untuk air berlipat ganda tiap dua puluh tahun. Katakan seseorang perlu hanya sekitar empat liter air minum per hari, lebih dari dua ribu liter air diperlukan untuk mencukupi kebutuhan tiap orang. 85 galon air dibutuhkan untuk memproduksi satu pon telur, 150 galon untuk memproduksi sepotong roti, dan 1000 galon untuk memproduksi satu pon kentang. Tapi lebih dari setengah air yang digunakan untuk irigasi hilang karena penguapan. Yang cukup mengejutkan, sebotol air lebih menghabiskan biaya ketimbang susu, minyak atau bahkan gas! Ekstraksi yang berlebihan dari air menyebabkan bidang penampungan air tanah menurun. Pada waktu yang sama, kualitas air menurun pada banyak tempat di dunia, khususnya daerah perkotaan. 
          Di India, lebih dari empat juta hektar tanah pertanian telah hilang karena penyedotan air (water loging), atau peningkatan kadar garam. Banyak penyakit muncul dari air, dan penyakit disebabkan oleh kurangnya air bersih untuk mandi, menimpa jutaan orang tiap tahun. Mungkin fakta yang paling mengerikan adalah pada 20 tahun nanti, mungkin tidak akan tersedia air tawar yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar setengah populasi dunia saat itu. Ini adalah alasan kenapa lebih dari 10.000 tanaman desalinasi telah ditanam, terutama di Timur Tengah. Kita bisa belajar dari negara India tersebut. Sebelum negara kita Indonesia mengalami hal itu maka mulailah dari sekarang menjaga air yang ada. Air merupakan sumber kehidupan. Sehingga, dengan hipotesis yang sederhana ini kita dapat menyimpulkan bahwa di mana ada air di situ pasti ada kehidupan. Meski terlihat sepele, tetapi sebenarnya air merupakan barang sangat penting sekali bagi kita. Atau, pernahkah terlintas dipikiran kalian apakah air selalu membawa manfaat dalam hidup kita? Jawabannya tentu saja tidak.         Hal ini disebabkan karena kesalahan kita dalam memanfaatkan, memelihara, dan merawat ketersediaan air dalam kehidupan sehari-hari. Banjir, tanah longsor, erosi, tanah tandus, daerah gersang, air yang tercemar limbah, merupakan akibat yang pernah kita alami di negeri kita Indonesia. Apakah kita pernah memikirkan apa penyebabnya? Ada banyak faktor yang menyebabkannya, tapi yang pasti itu semua disebabkan oleh kelalaian kita sebagai umat manusia dalam merawat dan melestarikan apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan yang Maha Esa. Setelah kita semua umat manusia menyadari semua kebodohan kita selama ini, apakah kita mau berubah? Apakah kita bisa lebih menghargai air yang merupakan kehidupan kita? Yap. Kita harus memulai melestarikan air mulai dari sekarang demi kelangsungan hidup manusia dan semua makhluk hidup di bumi ini. Beberapa hal yang dapat kita lakukan antara lain : 1. Menghemat penggunaan air bersih. 2. Membuang sampah pada tempatnya. 3. Mengadakan pengolahan limbah secara benar. 4. Menjalankan reboisasi agar hutan tetap terjaga kelestariannya. 5. Mencegah penebangan pohon secara liar. 6. Mengadakan sosialisasi tentang betapa pentingnya peranan air dalam kehidupan umat manusia. 7. Menghapus sistem penambangan secara liar tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem. 8. Membersihkan daerah sumber-sumber air bersih dari segala sampah. 9. Menciptakan suatu lingkungan yang asri, dengan di mulai dari lingkungan rumah kita sendiri. 10. Menjaga stabilitas ketersediaan air bersih di dalam tanah. Untuk itu, lakukanlah perubahan sekecil apapun sejak dini demi kelangsungan hidup anak cucu kita di masa depan. SAVE YOUR EARTH FROM NOW ! If Not Us, Who else??

Rabu, 02 Maret 2011

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan “Proses Osmosis pada Kentang ( Solanum tuberosum)

I. Judul : Proses Osmosis Pada Umbi Kentang (Solanum tuberosum)
II. Tujuan : Mengetahui bagaimana proses air dapat masuk ke dalam tubuh tumbuhan
III. Landasan Teori :

Pernahkah kita memikirkan bagaimana caranya udara dan air masuk ke dalam tubuh tumbuhan? Semua sel tumbuhan dikelilingi oleh selaput atau membran. Membran sel tidak dapat dilalui oleh semua zat. Membran sel berfungsi seperti tirai kasa di jendela rumahmu yang dapat dilalui udara tetapi tidak dapat dilalui benda-benda yang besar seperti serangga atau kerikil bahkan nyamuk. Bagaimana zat-zat tertentu dapat melalui membran sel? Sel-sel tumbuhan dapat dilewati air, zat-zat makanan yang terlarut, oksigen dan karbondioksida baik ke dalam atau ke luar sel.
Sel tumbuhan memerlukan oksigen dan karbondioksida, serta bagaimana zat-zat tersebut bergerak melewati membran sel? Bagian-bagian penyusun zat di alam ini selalu dalam keadaan bergerak. Bagian-bagian penyusun zat yang ukurannya sangat kecil disebut partikel. Partikel tersebut menyebar merata ke segala arah. Zat-zat bergerak dari tempat yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi ke tempat yang konsentrasinya lebih rendah. Proses perpindahan zat seperti tersebut disebut difusi. Konsentrasi suatu zat adalah ukuran yang menunjukkan jumlah suatu zat dalam volume tertentu. Difusi partikel zat itu akan berhenti jika konsentrasi zat di kedua tempat tersebut sudah sama.
Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini, sel akan mendapat dan kehilangan air yang sama. Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut (Echinodermata) dan kepiting (Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonik dengan lingkungannya. Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka sel tersebut akan mendapatkan banyak air, sehingga bisa menyebabkan lisis (pada sel hewan), atau turgiditas tinggi (pada sel tumbuhan). Sebaliknya, jika sel berada pada larutan hipertonik, maka sel banyak kehilangan molekul air, sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian. Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan yang hipo- atau hipertonik, maka diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu dalam proses osmoregulasi.
HUBUNGAN AIR DENGAN TUMBUHAN
Air merupakan faktor lingkungan yang penting, semua organisme hidup memerlukan kehadiran air ini. Perlu dipahami bahwa jumlah air di sistem bumi kita ini adalah terbatas dan dapat berubah-ubah akibat proses sirkulasinya. Pengeringan bumi sulit untuk terjadi akibat adanya siklus melalui hujan, aliran air, transpirasi dan evaporasi yang berlangsung secara terus menerus. Bagi tumbuhan air adalah penting karena dapat langsung mempengaruhi kehidupannya. Bahkan air sebagai bagian dari faktor iklim yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perubahan struktur dan organ tumbuhan. Untuk lebih rinci perhatikan peranan air bagi tumbuhan di bawah ini :

a. Struktur Tumbuhan. Air merupakan bagian terbesar pembentuk jaringan dari semua makhluk hidup (tak terkecuali tumbuhan). Antara 40% sampai 60% dari berat segar pohon terdiri dari air, dan bagi tumbuhan herba jumlahnya mungkin akan mencapai 90%. Cairan yang mengisi sel akan mampu menjaga substansi itu untuk berada dalam keadaan yang tepat untuk berfungsi metabolisma.

b. Sebagai Penunjang. Tumbuhan memerlukan air untuk penunjang jaringan-jaringan yang tidak berkayu. Apabila sel-sel jaringan ini mempunyai cukup air maka sel-sel ini akan berada dalam keadaan kukuh. Tekanan yang diciptakan oleh kehadiran air dalam sel disebut tekanan turgor dan sel akan menjadi mengembang, dan apabila jumlah air tidak memadai maka tekanan turgor berkurang dan isi sel akan mengerut dan terjadilah plasmolisis.

c. Alat Angkut. Tumbuhan memanfaatkan air sebagai alat untuk mengangkut materi disekitar tubuhnya. Nutrisi masuk melalaui akar dan bergerak ke bagian tumbuhan lainnya sebagai substansi yang terlarut dalam air. Demikian juga karbohidrat yang dibentuk di daun diangkut ke jaringan-jaringan lainnya yang tidak berfotosintesis dengan cara yang sama.

d. Pendingin. Kehilangan air dari tumbuhan oleh transpirasi akan mendinginkan tubuhnya dan menjaga dari pemanasan yang berlebihan.
 Masuknya Air dalam Tumbuhan
Tumbuhan umumnya menyerap/ mengisap air tanah oleh sistem akarnya, meskipun pada beberapa tumbuhan sederhana seperti lumut kerak dan lumut daun mampu menyerap air dari sekitarnya secara langsung. Air memasuki akar melalui bulu-bulu akar yang sangat halus yang berada seitar 6 mm setelah tudung akar. Sistem bulu akar ini memperluas permukaan aktif yang mampu menyerap air, dan secara terus menerus diperbaharui sesuai dengan pertumbuhan akar menembus tanah.


2. Pergerakan Air dalam Tumbuhan
Dalam tumbuhan paku-pakuan dan juga dalam spermatofita air bergerak melalui jaringan khusus yang disebut xylem, yang strukturnya sangat berbeda-beda tergantung pada pengelompokannya, yang secara umum bersamaan dengan bentuk tabung. Air didorong naik sebagian akibat daya kapiler, tetapi sebagian besar bergerak anik akibat perbedaan terkanan antar daun dengan akar yang akan menghasilkan aliran yang terus-menerus melalui tumbuhan. Dalam tumbuhan yang tidak mempunyai jaringan xylem air diangkut ke seluruh tubuh oleh proses osmosis.

3. Bagaimana air meninggalkan tumbuhan
Umumnya air yang masuk ke tanah dan tumbuhan akan hilang melalui proses penguapan, dan hanya 2% air yang diserap oleh akar akan dipakai membentuk lebih banyak materi tumbuhan. Pada prinsipnya air akan meninggalkan tumbuhan melalui tiga cara:
- Transpiransi, yaitu bagian yang paling utama dari kehilangan air ini. Dalam daun air akan diuapkan dari dinding sel ke ruang antar sel. Dari sini didifusikan ke luar ke udara melalui lubang kecil di daun yang disebut stomata/ mulut daun. Mulut-mulut daun ini akan terbuka pada siang hari dan menutup pada malam hari. Fungsi utamanya adalah memberi kemungkinana untuk erjadinya pertukaran gas antara tumbuhan dengan udara.
- Penguapan Kutikula, sebagaian air mungkin menguap melalui kutikula dari daun atau tngkai. Dan hanya sebagian kecil air hilang dengna cara ini, umumnya kurang dari 10% dari total kehilangan air.
- Gutasi, di daerah yang lembab kehilangan air akibat penguapan adalah terlalu sulit. Untuk tumbuhan yang hidup pada habitat ini mempunyai lubang pada ujung dari xylem dari daun sebagai adaptasi morfologi dan fisiologi. Lubang ini dikenal dengan hidatoda, yang memungkinkan air menetes langsung keluar dari daun.
4. Laju Kehilangan Air
Jumlah air yang diperlukan oleh tumbuhan dan konsekuensinya daya toleransi terhadap lingkungan adalah ditentukan utamanya oleh laju kehilangan air, yang harganya tidak saja dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tetapi juga oleh keadaan tumbuhan itu sendiri.




1) Kondisi Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban udara, dan angin kesemuanya berpesan terhadap laju penguapan dan mempengaruhi jumlah air yang hilang dari tumbuhan.

2) Ukuran dan Struktur Tumbuhan

 Ukuran Tumbuhan, umumnya tumbuhan yang besar memerlukan lebih banyak air daripada tumbuhan kecil pohon Quercus misalnya menguapkan 675 L air, sedangkan jagung hanya menguapkan 2,5 L air selama musim panas di daerah temperatur.

 Ukuran Daun, umumnya di daerah lembab yang mempunyai laju penguapan rendah daun-daun menjadi besar untuk mendukung transpirasi, sedangkan daun-daun tumbuhan di daerah kering berukuran kecil-kecil untuk mengurangi penguapan.

 Jumlah dan Ukuran Stomata, kerapatan dan ukuran stomata sangat berlainan untuk setiap jenis tumbuhan. Transpirasi pada dasarnya akan lebih efisien pada daun dengan ukuran stomata kecil tapi banyak jumlahnya daripada daun dengan stomata besar tapi sedikit jumlahnya. Tumbuhan yang teradaptasi untuk hidup di daerah kering biasanya mempunyai stomata dengan jumlah sedikit, bahkan pada daerah kering ini stomata tumbuhan terbuka pada malam hari dan tertutup pada siang hari dengan tujuan mengurangi kehilangan air akibat transpirasi.

5. Kekurangan dan Kelebihan Air
Di lingkungan daratan dengan situasi kelebihan air maka tanah menjadi jenuh air, permasalahan utama pada situasi seperti ini adalah tidak adanya udara dalam tanah sehingga perakaran tumbuhan tidak bisa bernafas dan juga tanah sering menjadi asam. Jika jumlah air tidak memadai untuk keperluan tumbuhan maka sel menjadi lembek, dan stomata menutup untuk mengurangi kehilangan air berkelanjutan. Kondisi air tanah seperti ini dikenal dengan titik kelayuan, dan sel-sel tumbuhan mulai untuk terjadinya plasmolisis yang biasanya berjalan berkepanjangan. Dan apabila situasi kekurangan air ini menerus maka tumbuhan akan mati. Umumnya tumbuhan yang berada di daerah kering ini berada dalam keadaan setengah dehidrasi pada siang hari yang diimbangi dengan penyimpanan dalam keseimbangan airnya pada malam hari.

6. Efisiensi Transpirasi
Jenis tumbuhan yang berbeda memerlukan jumlah air yang berbeda pula untuk pertumbuhannya. Perbandingan antara produktivitas bersih dengan air yang ditranspirasikan merupakan efisiensi transpirasi dari tumbuhan. Biasanya dinyatakan sebagai berat air yang ditranspirasikan dalam gram untuk menghasilkan 1 gram berat organik kering. Misalnya, efisiensi transpirasi dari gandum adalah 507, tentang 408, dan tanaman di daerah kering 250.

7. Adaptasi Tumbuhan terhadap Kondisi ekstrim
Kekeringan merupakan situasi yang sering dialami oleh tumbuhan, meskipun dipahami bahwa hujan bukanlah satusatunya faktor yang dapat menimbulkan. Suhu yang tinggi bisa juga memberikan pengaruh kekurangan air ini. Bila musim kering itu bersifat periodik dan merupakan karakteristika daerah, maka tumbuhan yang berada di daerah akan memperlihatkan penyesuaian dirinya, berbagai cara penyesuaian ini tergantung pada tumbuhan itu. Umumnya memperlihatkan reduksi dari daun dan dahan, memperpendek siklus hidup atau biji matang pada atau dekat permukaan, rambut akar bertambah banyak, sel kutikula menbal, dinding sel mengandung lebih banyk ikatan kipid, jaringan polisade berkembang lebih baik tetapi sebaliknya dengan bungakarang, sel dan ruang antar sel mengecil tetapi jaringan lignin membesar. Kecepatan fotosintesis, tekanan osmosa dan permeabilitas protoplasma meninggi dan diikuti dengan penurunan viskositas protoplasma, akibatnya perbandingan tepung dan gula menjadi besar, sehingga secara total tumbuhan menjadi tahan terhadap kelayuan.






IV. Rumusan masalah : 1. jelaskan pengertian osmosis
2. jelaskan bagaimana proses osmosis terjadi pada tumbuhan

IV. Alat dan Bahan :
Alat :
- Pisau silet atau sejenisnya yang tajam
- Gelas bekas air mineral 7 buah
- Kertas aluminium
- Timbangan
- Stop watch
Bahan :
- murni (aquades)
- (0,4; 0,8; 1,2; 1,6; dan 2,0 %)
- kentang

V. Cara Kerja :

1. Kupas kentang dari kulitnya.
2. Potong kentang dengan ukuran 2x2 cm sebanyak 21 potong menggunakan pisau atau silet.
3. Timbang kentang dan catat berapa volume serta beratnya.
4. Masukkan air murni (aquades) dan larutan NaCl (0,4; 0,8; 1,2; 1,6; dan 2,0 %) di masing-masing gelas dengan ditandai dengan batas yang sama. kemudian beri tanda untuk setiap larutan dan masukan 3 potong kentang ke dqalam satu gelas yang kosong (tidak diberi larutan).
5. Masukkan potongan kentang ke masing-masing gelas yang telah di beri tanda secara bersamaan dan tutup setiap gelas dengan kertas aluminium.
6. Biarkan potongan kentang tersebut terendam selama 30 menit.
7. Setelah 30 menit, angkatlah potongan kentang tersebut.
8. Periksa keadaan kentang tersebut, lalu timbang ulang kentang, ukur volumenya dan catat hasilnya.

VI. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan terhadap sel tumbuhan jika tumbuhan dimasukkan ke dalam setiap larutan yang berbeda.

Perlakuan Perubahan Berat Rata-rata
1 2 3 4 5 6 7 8
Tanpa Larutan 0 0 0,4 0 0 0,05 0 -0,2 0,03125
NaCl 0% 0,2 0,5 0,9 1,5 0,3 0,35 0,03 0,4 0,5225
NaCl 0,4% 0,9 0,4 0,4 0,4 0,25 0,45 0,04 0,2 0,38
NaCl 0,8% -0,3 -0,2 0 -0,6 -0,3 0,25 0 0,1 -0,13125
NaCl 1,2% -0,1 -0,7 -0,4 -1,4 -0,1 0 -0,01 -0,7 -0,42625
NaCl 1,6% -0,4 -0,3 -0,7 0,1 -0,3 -0,2 -0,025 -0,5 -0,29063
NaCl 2,0% -0,6 -0,4 -0,9 0,8 -0,1 -0,35 0,01 -0,5 -0,255



Perlakuan Perubahan Volume Rata-rata
1 2 3 4 5 6 7 8
Tanpa Larutan 0 0 0 0,31 0 0 0 1,2 0,18875
NaCl
0% 0,76 0,5 0,31 0 0 0 0,331 1,15 0,381375
NaCl 0,4% 0,27 0,7 0,77 0 0 0 0,728 0,27 0,34225
NaCl 0,8% 0,46 -0,2 1,02 0 0 0 -0,059 0,29 0,188875
NaCl 1,2% 0,38 -0,75 1,02 0 0 0 -0,271 0,41 0,098625
NaCl 1,6% 0,05 -0,52 0,2 0 0 0 -0,578 0,41 -0,05475
NaCl 2,0% 0,29 -0,72 1,14 -0,704 0 0 0,157 -0,66 -0,06213




No Larutan Berat (gram) Keadaan kentang Hal yang terjadi
Awal Akhir Isotonis Hipotonis Hipertonis
1.
Aquades 4 gr 4,3 gr - - V
2. Larutan NaCl 0,4% 3,25 gr 3,5 gr - - V
3. Larutan NaCl 0,8% 3,8 gr, 2,5 gr - V
4. Larutan NaCl 1,2% 3,7 gr 3,6 gr - V -
5. Larutan NaCl 1,6% 3,9 gr 3,6 gr - V -
6. Larutan NaCl 2,0% 3,4 gr 3 gr - V -
7. Tanpa Larutan 3 gr 3 gr V -







VII. Pembahasan

Dari percobaan yang telah dilakukan, sel kentang mengalami perubahan, sebagian kentang mengalami pertambahan berat ,namun ada kentang yang mengalami pengurangan berat dan . Hal ini terjadi karena air bersifat hipotonis maupun hipertonis terhadap sel kentang. Yang terjadi pada sel kentang setelah dimasukkan ke dalam air murni, kentang mengalami perubahan berat, yaitu kentang bertambah bertambah beratnya. Dari berat 4 gr menjadi 4,3 gr, hal ini terjadi karena air bersifat hipotonis terhadap sel kentang.
Pada kentang yang dimasukkan kedalam larutan NaCl dengan konsentrasi berbeda yaitu 0,4% terjadi penambahan berat karena NaCl bersifat hipotonis terhadapsel kentang. Sedangkan kentang yang dimasukkan kedalam larutan NaCl dengan konsentrasi yaitu 0,8% ; 1,2% ; 1,6% dan 2,0% terjadi pengurangan berat. Hal ini disebabkan karena NaCl bersifat hipertonis terhadap sel kentang.
Bila dilihat dari data kelas, ada keanehan terjadi pada beberapa kelompok. Kentang tanpa larutan ada yang mengalami perubahan berat maupun volume. Hal ini dikarenakan kurang telitinya para siswa.


VIII. Kesimpulan
Dari data yang didapat, dapat kami simpulkan bahwa kentang yang mengalami penambahan berat terjadi karena NaCl bersifat hipotonis terhadap kentang. Sedangkan jika terjadi pengurangan berat karena larutan NaCl bersifat hipertonis terhadap kentang.
Sifat konsentrasi larutan NaCl adalah :
1. Isotonis = tidak ada
2. Hipotonis = konsentrasi NaCl 0,4% dan 0,8%
3. Hipertonis = konsentrasi NaCl 1,2%, 1,6% dan 2,0%
4. Molekul berukuran kecil dapat melewati membran sel dengan dua cara, yaitu dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, atau bisa juga Menuruni gradien konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.




IX. Daftar Pustaka
http://elfisuir.blogspot.com/2010/02/hubungan-air-dengan-tumbuhan.html
Puspita, Tasmania.1997. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Sriwijaya

PHYLUM CHORDATA

Hewan yang termasuk chordata adalah semua hewan yang memiliki penyokong tubuh dalam, mulai dari tingkat sederhana berbentuk seperti cacing (Tunicata), ikan lancelet sampai mamalia

Sifat yang ada pada hewan-hewan yang dimasukkan ke dalam phylum ialah:

1.

Adanya chorda dorsalis, pada keadaan embrio, larva atau seumur hidup, chorda dorsalis terjadi dari entoderm primer.
2.

Pada dinding pharynx ada sulci pada keadaan embrio, atau lubang-lubang pada keadaan larva atau seumur hidup. Lubang-lubang ini ialah celah-celah insang.
3.

Di dalam pusat susunan saraf ada rongga, seumur hidup atau hanya pada keadaan larva. Rongga ini disebut neuroceia.

Di dalam tubuh chordata terdapat celom. Mesoderm yang merupakan dinding celom tersebut berasal dari entoderm primer, sehingga chordata termasuk Enterocelomata bersama Echinedermata. Phylum chordata ini dibagi atas 4 sub phylum yaitu:

1.

Sub Phylum Hemichordata (hemi = setengah)
2.

Sub Phylum Urochordata (oura = ekor)
3.

Sub Phylum Chepalochordata (Chepale = kepala)
4.

Sub Phylum Vertebrata

1.

Asal-Usul Chordata

Teori-teori tentang asal usul Chordata disusun berdasarkan karakteristik invertebrata dan kordata rendah. Ada 3 teori yang dapat dikemukakan mengenai asal usul Phylum Chordata yaitu:

1.

Teori Anelid

Baik anelida maupun Chordata bersifat bilateral simetris dan bersegmen. Organ-organ ekskresi bersegmen, selom tumbuh baik, ada korda saraf di pembuluh-pembuluh darah longitudinal. Apabila pada anelida kita menempatkan korda sarafnya di sebelah dorsal saluran pencernaan, maka tipe aliran darahnya akan sama dengan yang terdapat pada chordata. Namun, namun mulut anelida itu lalu ada di sebelah dorsal, tidak seperti pada chordata yang mulutnya di sebelah ventral. Demikian pula berbagai hubungan dorsoventral akan berubah. Lebih-lebih lagi, annelida itu tidak mempunyai struktur yang serupa dengan notokorda atau celah-celah insang.

1.

Teori Araknid

Persamaanya adalah pada eurypterid (artropoda zaman Paleozoik) dan ostracoderm (chordata pada zaman purba), yaitu adanya eksoskeleton dorsal, namun demikian, kordata tidak mempunyai apendiks-apendiks seperti pada artopoda, dan korda sarafnya terletak sebelah dorsal. Sedangkan pada artopoda, korda sarafnya ada di sebelah ventral.

1.

Teori Ekinodermika

Larva tornaria dari cacing lidah Soccoglossus sp. (anak filum Hemichordata) tdan larva bipinnaria dari echinodermata, semuanya ransparan, bersilia eksternal, dengn ruang selom, dan mempunyai porus dorsal. Dahulu memang terjadi kekeliruan, yaitu larva cacing lidah itu diidentifikasi sebagai Asterius sp. Sebuah hipotesis pernah dikemukakahn, bahwa larva echinodermata→larva hemichordata→larva tunikata→amfioksus→ostracoderm. Jika hipotesis itu benar, maka tidak ada lagi kemungkinan akan ditemukan fosil chordata purba.

1.

SUB PHYLUM HEMICHORDATA (setengah chordata)

Kedudukan Hemichordata dalam phylum Chordata sulit untuk dibedakan, karena dalam sub phylum ini terdapat beberapa jenis binatang yang mempunyai bentuk seperti cacing.. oleh karena ini dan lain faktor, hemichordates diperlakukan sebagai famili dari echinodermata dan chordata.

Anatomi

Badan ialah lunak dan berbentuk silinder seperti cacing. Dataran badan dilapisi epidermis yang terdiri atas satu lapis sel yang mempunyai cilia. Pada badan dapat dibedakan:

*

Proboscis, yang berbentuk seperti conus
*

Collare, yang berbentuk sebagai leher baju dan menglilingi colum dan basis proboscis.
*

Truncus, yang panjang agak pipih.

Sistem cardiovasculer terdiri atas sinus dorsalis, truncus longitudinalis dorsalis, truncus longitudinalis ventralis, glomerolus, dan plexus. Tidak mempunyai alat-alat indera. Tetapi beberapa sel epidermis pada beberapa tempat pada proboscis dan pada tepi cranial collare rupanya bersifat sel-sel sensoris.

Dinding badan terdiri atas jaringan otot. Di dalam proboscis terdapat satu celom yang bermuara keluar melalui satu lubang, ialah porus proboseis. Di dalam collare terdapat dua celom yang dipisah satu dari yang lain oleh suatu sekat median ialah mesenterium dorsale dan menseterium entrale. Juga celom ini bermuara keluar masing-masing melalui porus collare. Celom di dalam proboscis dan di dalam collare dilalui oleh fasciculi jaringan pengikat. Cellom itu dapat diisi dengan air laut melalui pori.

Fisiologi

Cellom proboscis dan cellom collare diduga dapat diisi dengan air laut sehingga mengembang dan mengeras. Oleh karenanya dan dengan bantuan gerakan otot tuncus, hewan dapat masuk ke dalam lumpur. Mulut tetap terbuka, sehingga air dan lumpur yang mengandung sisa-sisa organis masuk ke dalam mulut. Air kemudian keluar melalui lubang-lubang, kandung-kandung, celah-celah insang, sisa-sisa organis merupakan makanan dan tanah, dikeluarkan melalui anus.

Embryo

Pada Balanoglossusterdapat amphigoni terdapat amphigoni dan gonochorisme. Ovaria dan testes berbentuk sebagai kandung-kandung yang tersusun dalam dua baris. Mereka terdapat di dalam cristae genitales. Mereka bermuara keluar dengan baris pori yang terdapat pada tepi crista genetalis.

Fertilisasi berlangsung ex tern. Perkembangan dapat langsung atau dengan metamorphosis. Pada perkembangan langsung seperti halnya pada Saccoglossus, terjadi pembelahan secara holoblastis dan equal, sehingga terjadi bentuk blastula. Bentuk blastula berubah menjadi bentuk grastula dengan cara invaginasi. Gastroporus kemudian menutup dan entoderm memisah dari ectoderm. Embrio memanjang dan suatu salcus memanjang melingkar terjadi sebagai invaginasi di dalam sulcus. Anus terjadi pada tempat gastroporus.

Sub Phylum Hemichordata dibagi menjadi dua klas dan dua ordo yaitu:

*

Class : Enteropneuta, contoh Balanoglossus sp.
*

Class : Peterobranchia
*

Ordo : Cephalodiscoides, contoh Cephalodiscus sp.
*

Ordo : Rhabdopleuridea, contoh : Rhabdopleura, sp.

1.

SUB PHYLUM UROCHORDATA

Terdapat di laut dari daerah tropis sampai kutub pada pantai sampai kedalaman 4.803 m. Beberapa hidup bebas, dan beberapa melekat atau sesil, setelah masa larva yang hidup bebas. Nothocord hewan-hewan ini terdapat pada ekor pada masa larva saja. Bentuk hewan ini bermacam-macam, ada yang kecil ada yang besar. Beberapa hidup secara soliter bererapa hidup secara koloni.

Anatomi

Salah satu contoh dari sub phylum Urochordata adalah Ascidia berbentuk sebagai silinder atau bulat memanjang. Pada satu ujung ia melekat pada sesuatu. Tubuhnya ditutup oleh tunica yang dibuat dari cellulose atau tunicin. Ia dibuat oleh cel-cel mesoderm. Tunica melapisi pallium, ialah suatu lapisan yang tersusun dari ectoderm, jaringan pengikat dan serabut-serabut otot, yang terutama berjalan melingkar.

Pada ujung yang bebas terdapat satu lubang yng disebut lubang oral. Pada satu sisi dekat ujung bebas terdapat lubang lain adalah lubang atrul. Pada tepi lubang tersebut pallium berhubungan dengan tunica. Di keliling lubang-lubang tersebut di dalam pallium ada otot spinecter yang kuat.

Oral dari crista peripharyngealis yang oral, terdapat suatu lingkaran tenrakel-tentakel kecil. Diduga bahwa pada tentakel-tentakel ini ada sel-sel indra yang berfungsi sebagai chemore\eseptor. Esophagus mulai dari dasar saccus branchialis dan bermuara ke dalam ventriculus yang melebar. Ventriculus melanjutkan diri ke dalam intestinum. Intestinum bermuara melalui anus ke dalam atrium dekat lubang atrist.

Pada Ascidia ada hermaproditisme protogyni. Ovarium dan testis berlekatan, dikelilingi oleh intestinum. Oviduct dan ductus deferens berjalan mengikuti intestinum dan bermuara ke dalam atrium dekat anus.

Fisiologi

Makanan berupa plankton-plankton kecil masuk ke dalam pharynx. Plankton ini terjerat oleh getah yang pekat yang berasal dari sel-sel kelanjar yang berasal dari endostyle, dan dialirkan oleh gerakan silia pada endostyle, cristae epicaryngeales dan lamina dorsalis ke lubang esophagus, lalu mengalir melalui stigmata di mana terjadi pertukaran gas antara darah dan air. Kontraksi cor ialah secara peristaltik dengan arah yang berganti-ganti, sehingga aliran darah juga berganti-ganti.

Kelompok sel-sel besar dengan gelembung-gelembung besar yang mengandung asam urat diduga berfungsi sebagai alat exskresi. Juga diduga bahwa grandula neurelaris berhubungan dengan exkresi. Pada tentakel di dalam lubang mulut diduga ada sel-sel yang berfungsi sebagai chemoreceptor. Juga diduga bahwa tuberculum dorsale merupakan suatu alat indera. Pada keadaan protogyni, ovarium berfungsi dulu, kemudian testis. Oleh karenanya dapat terjadi autofertilisasi.

Embryo

Fertilisasi berlangsung extern. Pembelahan terjadi sampai terjadi bentuk blastula. Bentuk blastula ialah pipih dengan sel-sel, yang membentuk ectoderm yang agak cembung di atas dan sel-sel yang embentuk entoderm yang agak cekung di bawah. Sel-sel ectoderm memperbanyak diri lebih cepat, sehingga mereka lebih kecil. Bentuk gastrula terjadi kebanyakan dengan cara invanigasi epibolis. Pada cara ini sel-sel ectoderm terus memperbanyak diri lebih cepat, sehingga entoderm makin lama makin cekung dan ectoderm meluas menutupi entoderm. Blastocela menghilang dengan mendalamnya cekung terjadilah bentuk gastrula dengan archenteron dan gastoporus. Gastoporus kemudian mengecil dan terletak pada ujung caudal sebelah dorsal atau atas. Embryo kemudian memanjang, sebelah atau lebih mendata, padahal sebelah bawah atau ventral tetap cembung.

Pada tahap metamorphosis, jumlah stigmata (lubang insang) bertambah, ekor serta chordata dorsalis dan bagian caudal medulla spinalis menghilang. Bangunan-bangunan yang dipandang mata dan otocyt serta kandungan alat indera menghilang, bagian cranial medulla spinalis menjadi suatu ganglion dan dan gonades serta saluran mereka terjadi antara ventriculus dan intestenum dari mesoderm.

Bagian tubuh antara bagian yang melekat dan mulut tumbuh cepat sehingga tubuh memutar mencapai 1800 dengan mulut dan lubang atrial terdapat pada ujung yang bebas. Akhirnya papillae adhesivae menghilang dan seluruh tubuh dikelilingi oleh tunica.

Subphylum Urochordata dibagi dalam classes dan ordines sebagai berikut:

*

Class Larvaceae, contoh: Appendicularis sp.
*

Class Ascidiaceae, contoh: Ascidiaceae sp
*

Class Thalliaceae, contoh: Thalliaceae sp.
*

Ordo Enterogona, contoh: Ascidia intestinalis
*

Ordo Pleurogona, contoh: Botryllus violaceus
*

Ordo Doliolida, contoh : Doliolum denticulatum
*

Ordo Salpida, contoh: Salpa
*

Ordo Pyrosomida, contoh: Pyrosoma giganteum

Berikut ini adalah contoh-contoh dari anggota subphylum Urochordata:

Botryllus schlosseri

Appendicularis Didemnum commune01fish01

Tunnicate Cyclosalpa affinis

D. SUBPHYLUM CHEPALOCHORDATA

Bentuk seperti ikan dan meliputi 30 species dan diantara yang terkenal adalah AMPHIOXUS dan LANCELET. Hewan ini biasanya menguburkan diri dalam pasir yang bersih di dasar tepi laut yang aman dengan mencuatkan bagian anteriornya. Di dalam air biasanya berenang lincah sekali. Sebutan Lancelet disebabkan ujung akhir tubuh runcing. Ciri Chordata pada chepalochordata jelas sekali bila dibandingkan dengan Sub Phylum Hemichordata dan Tunicata.

Anatomi

Badan panjangnya tidak melebihi 5,8 cm. Ia adalah runcing pada kedua ujung. Ujung cranial disebut rostum. Pada tepi dorsal terdapat suatu lipatan median longitudinal, ialah sirip dorsal yang melanjutkan diri ke caudal sebagai sirip caudal yang kemudian melanjtkan diri ke venral cranial sampai dimana penampang melintang badan menjadi segitiga, sebagai sirip ventral. Ada 2/3 bagian cranial badan tidak ada sirip ventral tetapi pada batas antara dataran lateral dan dataran ventral terdapat suatu lipatan yang disebut metapleura.

Ada 100 celah-celah insang atau lebih. Mereka ialah memanjang ke arah entrodorsal atau agak miring. Septa interbranchiala yang memisahkan celah-celah insang satu dari yang lain, disebelah dalam dilapisi oleh sel-sel ephitelium pendek dan tidak bercilia yang berasal dari ectodermal.

Pembuluh-pembuluh darah Amphioxus ialah semua dari satu macam, tetapi oleh kaena ada homologinya pada pembuluh-pembuluh darah craniata, beberapa dari mereka disebut arteriae dan beberapa venae.

Pada Amphioxus terdapat gonochorisme, tetap bentuk hewan jantan dan hewan betina ialah sama, sehingga tidak ada dimorphisme. Gonades berbentuk sebagai kandung-kandung sejumlah 26 pasang yang tersusun antara dinding badan dan dinding lateral atrium, di daerah pharyngeal dan post-pharyngeal. Gonades tidak mempunyai saluran keluar. Bila sel-sel kelamin masak, sel-sel tersebut menembus dinding lateral aerom dan datang di dalam atrium untuk kemudian keluar melalui actoporus.

Fisiologi

Interaksi satu myomer, menyebabkan badan membengkok pada tempat myomer itu. Bila kontraksi myomer-myomer itu terjadi berturut-turut dari canial ke caudal dan berganti-ganti kanan dan kiri, terjadi gerakan mengelombang dari tubuh cranial ke caudal.

Embryologi

Fertilisasi berlangsung extern. Pembelahan melalui meridional, kemudian sampir equatorial, sehingga terjadi micromer dan macromer dan terjadi bentuk morula. Kemudian terjadi bentuk blastula disusul oleh bentuk glastula. Bentuk glastrula terjadi oleh karena adanya invaginasi secara epiboli. Bentuk gastrula semula berbentuk seperti piring, tetapi kemudian archenteron mendalam dan gastoporus mengecil dan terdapat pada ujung yang akan menjadi ujung caudal, di datran yang akan menjdi dataran dorsal. Dataran ini mendatar padahal dataran yang akan menjadi dataran ventral tetap melengkung. Pada sel-sel ectoderm terdapat cilia. Kemudian seperti halnya pada Urochordata, ectoderm di sebelah dorsal, cranial dan gastropopus, menjadi lamina medullaris.

Sub Phylum Chepalochordata hanya terdiri atas satu class, ialah:

Class: Cephalochordata

Klasifikasi selanjutnya ialah sebagai berikut:

Ordo : Branchiostomidae

Familia : Branchiostomidae

Contoh : Amphioxus lanceolatus

Ordo : Amphioxidia

Famili : Amphioxididiae

Contoh : Amphioxides sp.

Minggu, 31 Oktober 2010

Bunga

Bunga (flos) atau kembang adalah struktur reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (divisio Magnoliophyta atau Angiospermae, "tumbuhan berbiji tertutup"). Pada bunga terdapat organ reproduksi (benang sari dan putik). Bunga secara sehari-hari juga dipakai untuk menyebut struktur yang secara botani disebut sebagai bunga majemuk atau inflorescence. Bunga majemuk adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan. Dalam konteks ini, satuan bunga yang menyusun bunga majemuk disebut floret.

Bunga berfungsi utama menghasilkan biji. Penyerbukan dan pembuahan berlangsung pada bunga. Setelah pembuahan, bunga akan berkembang menjadi buah. Buah adalah struktur yang membawa biji.

Fungsi bunga

Fungsi biologi bunga adalah sebagai wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. Proses dimulai dengan penyerbukan, yang diikuti dengan pembuahan, dan berlanjut dengan pembentukan biji.

Beberapa bunga memiliki warna yang cerah dan secara ekologis berfungsi sebagai pemikat hewan pembantu penyerbukan. Beberapa bunga yang lain menghasilkan panas atau aroma yang khas, juga untuk memikat hewan untuk membantu penyerbukan.

Manusia sejak lama terpikat oleh bunga, khususnya yang berwarna-warni. Bunga menjadi salah satu penentu nilai suatu tumbuhan sebagai tanaman hias.

Morfologi bunga
Bagian-bagian bunga sempurna. 1. Bunga sempurna, 2. Kepala putik (stigma), 3. Tangkai putik (stilus), 4. Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari), 5. Sumbu bunga (axis), 6. artikulasi, 7. Tangkai bunga (pedicel), 8.Kelenjar nektar, 9. Benang sari (stamen), 10. Bakal buah (ovum), 11. Bakal biji (ovulum), 12. , 13. Serbuk sari (pollen), 14. Kepala sari (anther), 15. Perhiasan bunga (periantheum), 16. Mahkota bunga (corolla), 17. Kelopak bunga (calyx)

Bunga adalah batang dan daun yang termodifikasi. Modifikasi ini disebabkan oleh dihasilkannya sejumlah enzim yang dirangsang oleh sejumlah fitohormon tertentu. Pembentukan bunga dengan ketat dikendalikan secara genetik dan pada banyak jenis diinduksi oleh perubahan lingkungan tertentu, seperti suhu rendah, lama pencahayaan, dan ketersediaan air (lihat artikel Pembentukan bunga).

Bunga hampir selalu berbentuk simetris, yang sering dapat digunakan sebagai penciri suatu takson. Ada dua bentuk bunga berdasar simetri bentuknya: aktinomorf ("berbentuk bintang", simetri radial) dan zigomorf (simetri cermin). Bentuk aktinomorf lebih banyak dijumpai.
Tumbuhan Crateva religiosa berbunga sempurna: memiliki stamen dan pistillum.

Bunga disebut bunga sempurna bila memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut bunga banci atau hermafrodit. Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga. Empat bagian utama bunga (dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut:

* Kelopak bunga atau calyx;
* Mahkota bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat serangga yang membantu proses penyerbukan;
* Alat kelamin jantan atau androecium (dari bahasa Yunani andros oikia: rumah pria) berupa benang sari;
* Alat kelamin betina atau gynoecium (dari bahasa Yunani gynaikos oikia: "rumah wanita") berupa putik.

Organ reproduksi betina adalah daun buah atau carpellum yang pada pangkalnya terdapat bakal buah (ovarium) dengan satu atau sejumlah bakal biji (ovulum, jamak ovula) yang membawa gamet betina) di dalam kantung embrio. Pada ujung putik terdapat kepala putik atau stigma untuk menerima serbuk sari atau pollen. Tangkai putik atau stylus berperan sebagai jalan bagi pollen menuju bakal bakal buah.

Walaupun struktur bunga yang dideskripsikan di atas dikatakan sebagai struktur tumbuhan yang "umum", spesies tumbuhan menunjukkan modifikasi yang sangat bervariasi. Modifikasi ini digunakan botanis untuk membuat hubungan antara tumbuhan yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, dua subkelas dari tanaman berbunga dibedakan dari jumlah organ bunganya: tumbuhan dikotil umumnya mempunyai 4 atau 5 organ (atau kelipatan 4 atau 5) sedangkan tumbuhan monokotil memiliki tiga organ atau kelipatannya.

DAUN

Daun merupakan modifikasi dari batang, merupakan bagian tubuh tumbuhan yang paling banyak mengandung klorofil sehingga kegiatan fotosintesis paling banyak berlangsung di daun.

Anatomi daun dapat dibagi menjadi 3 bagian :

1. Epidermis

Epidermis merupakan lapisan terluar daun, ada epidermis atas dan epidermis bawah, untuk mencegah penguapan yang terlalu besar, lapisan epidermis dilapisi oleh lapisan kutikula. Pada epidermis terdapat
stoma/mulut daun, stoma berguna untuk tempat berlangsungnya pertukaran gas dari dan ke luar tubuh tumbuhan.

2. Parenkim/Mesofil

Parenkim daun terdiri dari 2 lapisan sel, yakni palisade (jaringan pagar) dan spons (jaringan bunga karang), keduanya mengandung kloroplast. Jaringan pagar sel-selnya rapat sedang jaringan bunga karang sel-selnya agak renggang, sehingga masih terdapat ruang-ruang antar sel. Kegiatan fotosintesis lebih aktif pada jaringan pagar karena kloroplastnya lebih banyak daripada jaringan bunga karang.

3. Jaringan Pembuluh

Jaringan pembuluh daun merupakan lanjutan dari jaringan batang, terdapat di dalam tulang daun dan urat-urat daun.

BATANG

Terdapat perbedaan antara batang dikotil dan monokotil dalam susunan anatominya.

1. Batang Dikotil

Pada batang dikotil terdapat lapisan-lapisan dari luar ke dalam :

a. Epidermis

Terdiri atas selaput sel yang tersusun rapat, tidak mempunyai ruang antar sel. Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus.

b. Korteks

Korteks batang disebut juga kulit pertama, terdiri dari beberapa lapis sel, yang dekat dengan lapisan epidermis tersusun atas jaringan kolenkim, makin ke dalam tersusun atas jaringan parenkim.

c. Endodermis

Endodermis batang disebut juga kulit dalam, tersusun atas selapis sel, merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan stele. Endodermis tumbuhan Anguiospermae mengandung zat tepung, tetapi tidak terdapat pada endodermis tumbuhan Gymnospermae.

d. Stele/ Silinder Pusat

Merupakan lapisan terdalam dari batang. Lapis terluar dari stele disebut perisikel atau perikambium. lkatan pembuluh pada stele disebut tipe kolateral yang artinya xilem dan floem. Letak saling bersisian, xilem di sebelah dalam dan floem sebelah luar.

Antara xilem dan floem terdapat kambium intravasikuler, pada perkembangan selanjutnya jaringan parenkim yang terdapat di antara berkas pembuluh angkut juga berubah menjadi kambium, yang disebut kambium intervasikuler. Keduanya dapat mengadakan pertumbuhan sekunder yang mengakibatkan bertambah besarnya diameter batang.

Pada tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu tahun, lapis-lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun.



2. Batang Monokotil

Pada batang Monokotil, epidermis terdiri dari satu lapis sel, batas antara korteks dan stele umumnya tidak jelas. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang
artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak adanya kambium pada Monokotil menyebabkan batang Monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Meskipun demikian, ada Monokotil yang dapat mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, misalnya pada pohon Hanjuang (Cordyline sp) dan pohon Nenas seberang (Agave sp).